Lebih dari 71 miliar dolar AS dibutuhkan dalam satu dekade ke depan untuk pemulihan dan rekonstruksi Gaza yang porak-poranda akibat perang, menurut penilaian Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dirilis pada Senin.
Dalam laporan akhir Gaza Rapid Damage and Needs Assessment (RDNA), PBB dan Uni Eropa menyebut lebih dari dua tahun konflik di wilayah Palestina tersebut “telah menyebabkan kehilangan nyawa yang belum pernah terjadi sebelumnya dan krisis kemanusiaan yang katastrofik.”
“Kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi diperkirakan mencapai sekitar 71,4 miliar dolar AS,” demikian isi laporan yang disusun bersama Bank Dunia.
Penilaian tersebut juga menyebutkan sekitar 26,3 miliar dolar AS dibutuhkan dalam 18 bulan pertama untuk memulihkan layanan dasar, membangun kembali infrastruktur penting, serta mendukung pemulihan ekonomi.
“Kerusakan infrastruktur fisik diperkirakan mencapai 35,2 miliar dolar AS, dengan kerugian ekonomi dan sosial sebesar 22,7 miliar dolar AS,” kata pernyataan bersama tersebut.
Gaza saat ini berada dalam gencatan senjata yang rapuh sejak Oktober lalu, setelah dua tahun konflik dahsyat yang dipicu serangan mendadak kelompok perlawanan Palestina Hamas pada 7 Oktober.
Gencatan tersebut menyusul perang yang dilancarkan Israel di Gaza sejak Oktober 2023, yang menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai sekitar 172.000 lainnya. Serangan ini juga menyebabkan kehancuran luas, dengan sekitar 90 persen infrastruktur Gaza terdampak.
Menurut laporan RDNA, sekitar 371.888 unit rumah hancur atau rusak, lebih dari 50 persen rumah sakit tidak lagi berfungsi, dan hampir seluruh sekolah mengalami kerusakan.
Pada saat yang sama, sekitar 1,9 juta orang—hampir seluruh populasi Gaza—terpaksa mengungsi, sering kali lebih dari sekali, dan lebih dari 60 persen penduduk kehilangan tempat tinggal.
Ekonomi Gaza pun menyusut hingga 84 persen.
“Skala dan luasnya kemunduran dalam kondisi hidup, mata pencaharian, ketahanan pangan, kesetaraan gender, dan inklusi sosial telah memundurkan pembangunan manusia di Jalur Gaza hingga 77 tahun,” demikian isi laporan tersebut.











