Perombakan di Kementerian Keuangan Indonesia yang berujung pada pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dan pengangkatan wakilnya, Suahasil Nazara, sebagai menteri keuangan dinilai dapat meredakan kekhawatiran pasar terhadap kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah.
Penunjukan Suahasil pada Senin (14/9) menjadi pergantian menteri keuangan ketiga di era Presiden Prabowo Subianto dalam kurun kurang dari dua tahun. Langkah ini terjadi hanya enam minggu setelah perubahan besar lain di lingkar pembuat kebijakan, menyusul pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada Juli lalu.
Sebagai teknokrat yang telah menjabat wakil menteri sejak 2019, Suahasil dikenal luas oleh pelaku pasar dan analis. Promosinya dipandang sebagai upaya untuk memulihkan kepercayaan terhadap pengelolaan fiskal, di tengah sorotan atas disiplin anggaran dan konsistensi kebijakan.
Reaksi pasar relatif stabil
Reaksi pasar sejauh ini relatif stabil dengan kecenderungan positif, menurut para ekonom, seiring keyakinan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta mempertahankan defisit dalam batas yang ditetapkan.
Purbaya sendiri diberhentikan sekitar satu tahun setelah penunjukannya yang mengejutkan pada September 2025, menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Pergantian mendadak saat itu sempat memicu pertanyaan mengenai komitmen kehati-hatian fiskal yang selama ini menjadi penopang kepercayaan investor terhadap ekonomi terbesar di Asia Tenggara.
Dalam pernyataan awalnya, Suahasil menegaskan akan menjaga kredibilitas APBN sekaligus melanjutkan program prioritas Presiden Prabowo. Ia juga berjanji mempertahankan defisit anggaran tahunan di bawah batas hukum sebesar 3% dari produk domestik bruto (PDB).
Ia turut menekankan bahwa transisi kepemimpinan ini merupakan kelanjutan manajerial untuk memastikan kesinambungan kebijakan. Ia juga mengimbau pelaku pasar melihat perubahan tersebut secara konstruktif.






















