DUNIA
2 menit membaca
Pertamina akan jajaki investasi migas di Guyana dan Suriname, perluas akses energi nasional
Upaya Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional kini semakin luas usai Pertamina dikabarkan akan memulai kerja sama eksplorasi dan investasi di sektor hulu migas di dua negara Amerika Latin.
Pertamina akan jajaki investasi migas di Guyana dan Suriname, perluas akses energi nasional
Pertamina dilaporkan menjajaki peluang masuk ke sektor hulu minyak dan gas di Guyana serta Suriname. /Dok. Petamina

Indonesia mulai memperluas strategi pengamanan energi dengan melirik kawasan baru di luar jalur tradisional impor minyaknya, PT Pertamina (Persero) kini disebut tengah menjajaki peluang masuk ke sektor hulu minyak dan gas di Guyana serta Suriname, dua negara Amerika Selatan.

Langkah tersebut diungkap oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang menyebut inisiatif tersebut masih berada pada tahap awal pembicaraan. 

Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemlu, Grata Endah Werdaningtyas, mengatakan sudah ada komunikasi eksploratif terkait kemungkinan kerja sama investasi dan eksplorasi di kedua negara tersebut. 

“Pertamina telah memulai penjajakan diskusi kerja sama untuk eksplorasi dan investasi di sektor hulu migas Guyana dan Suriname,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (14/9) sebagaimana dikutip oleh Antara.

Minat terhadap Guyana dan Suriname tidak lepas dari lonjakan signifikan aktivitas migas di kawasan pesisir utara Amerika Selatan. Produksi minyak regional diperkirakan terus meningkat dan dapat mencapai sekitar 200.000 barel per hari pada 2028, memperkuat posisi kawasan ini sebagai salah satu pusat pertumbuhan energi baru di luar Timur Tengah.

TerkaitTRT Indonesia - Pameran foto “Tierra Viva” perkuat diplomasi budaya Indonesia–Amerika Latin

Bagi Indonesia, langkah ini dibaca sebagai upaya mengurangi kerentanan terhadap ketergantungan impor dari sumber yang terbatas. Dengan memiliki partisipasi ekuitas di blok minyak luar negeri, pemerintah menilai risiko gangguan pasokan dapat ditekan, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk volatilitas di Selat Hormuz akibat dinamika hubungan Amerika Serikat dan Iran.

Grata menegaskan bahwa skema investasi semacam ini memiliki dimensi strategis yang lebih luas dibanding sekadar perdagangan energi biasa. 

“Investasi berarti kita memiliki kepemilikan di sumbernya, sehingga pasokan dari wilayah tersebut menjadi lebih terjamin,” katanya dikutip oleh Antara. Ia menambahkan bahwa pendekatan ini menempatkan Indonesia sebagai “pemain yang lebih cerdas” dalam rantai pasok energi global.

Di luar aspek energi, langkah Pertamina ini juga sejalan dengan dorongan diplomasi ekonomi Indonesia yang mulai memperkuat penetrasi ke kawasan Amerika Latin dan Karibia. 

Menurut data resmi pemerintah, hubungan dagang Indonesia dengan kawasan tersebut pada 2025 tercatat mencapai $16,1 miliar, dengan komposisi $7,6 miliar ekspor dan $8,5 miliar impor, atau sekitar 3 persen dari total perdagangan global Indonesia.

Pemerintah berencana memperdalam kerja sama tersebut melalui forum bisnis tahunan Indonesia-Latin America and Caribbean (INA-LAC). Tahun ini, agenda tersebut akan digelar di Chile pada 1-2 Oktober 2026, sebagai bagian dari upaya memperluas jejaring ekonomi dan investasi di kawasan tersebut.

TerkaitTRT Indonesia - Tingkatkan perdagangan RI–Amerika Latin, Kemlu siap gelar forum bisnis di Brasil
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi