IKLIM
2 menit membaca
Banjir terjang empat kecamatan di Langkat, satu warga tewas dan ribuan mengungsi
Hujan deras memicu banjir susulan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Bencana ini menelan satu korban jiwa, merendam ribuan rumah, serta mengancam keselamatan infrastruktur jembatan setempat.
Banjir terjang empat kecamatan di Langkat, satu warga tewas dan ribuan mengungsi
Petugas mengevakuasi warga yang terdampak banjir bandang di Desa Sekoci, Sumatera Utara, Senin (12/10). Foto: BPBD Sumut

Hujan deras berintensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, sejak Sabtu (10/10) malam memicu banjir bandang dan luapan sungai yang merendam permukiman warga. Bencana ini menyebabkan ribuan warga terdampak, merusak infrastruktur, serta merenggut satu korban jiwa.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara, Tuahta Ramajaya Saragih, mengungkapkan bahwa banjir melanda sedikitnya empat kecamatan, yaitu Besitang, Padang Tualang, Salapian, dan Sirapit. Hingga Selasa (13/10), tim gabungan masih terus melakukan evakuasi, pendataan, dan pemantauan di lokasi terdampak.

Kecamatan Besitang menjadi wilayah terparah dengan mencatat 969 kepala keluarga (KK) atau sekitar 3.576 jiwa terdampak. Luapan air merendam Desa Sekoci, Desa Arasnapal, dan Kelurahan Kampung Lama, dengan ketinggian air bervariasi mulai dari 10 sentimeter hingga mencapai 150 sentimeter di lokasi tertinggi.

Dampak cukup parah juga dirasakan warga di Kecamatan Padang Tualang. Sebanyak 196 KK atau 773 jiwa terdampak akibat genangan air berketinggian 20 hingga 120 sentimeter yang menerjang Desa Tebing Tanjung Selamat dan Desa Tanjung Putus.

"Banjir ini datang bergelombang. Setelah sempat surut pada Minggu (11/10) sore, hujan kembali turun pada malam hari. Sekitar pukul 02.30 WIB, Senin (12/10), air kembali memasuki permukiman warga," ujar Tuahta dalam keterangannya kepada NU Online, Rabu (14/10).

Akibat banjir susulan tersebut, sekitar 60 persen warga terpaksa mengungsi secara mandiri maupun ke posko darurat. Tercatat sedikitnya 310 KK bertahan di beberapa titik pengungsian, termasuk empat posko di Desa Sekoci dan posko di Dusun I Sumur Bor. Pihak berwenang memperkirakan jumlah pengungsi masih berpotensi berubah seiring pemantauan di lapangan.

Selain merendam tempat tinggal warga, derasnya arus sungai juga mengancam keselamatan infrastruktur vital. Di Desa Ujung Terang, Kecamatan Salapian, fondasi jembatan penghubung dilaporkan mulai terkikis akibat gempuran arus air.

Bencana ini turut menelan korban jiwa di Kecamatan Sirapit. Seorang warga dilaporkan hilang terseret arus deras saat berusaha menyeberangi sungai yang meluap. Setelah proses pencarian, korban akhirnya ditemukan pada Selasa (13/10) dalam keadaan meninggal dunia.

TerkaitHujan lebat picu banjir bandang di Solok, satu warga hilang dan infrastruktur rusak - TRT Indonesia - TRT Indonesia
SUMBER:TRT Indonesia